Februari 28, 2024

JAKARTA – Majelis Hukama Muslimin (MHM) yang dipimpin oleh Syekh Besar Al-Azhar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb akan mengadakan pertemuan untuk membahas peran agama dalam mengatasi tantangan perubahan iklim. Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi tersebut pada 4 Oktober 2023.

Pertemuan tersebut akan dihadiri oleh 150 orang yang mewakili berbagai agama, cendekiawan, akademisi, dan pemuda yang peduli terhadap perubahan iklim di Asia Tenggara. Tema utama konferensi tersebut adalah: “Upaya menghidupkan kembali nilai-nilai agama dan budaya adat dalam menanggapi perubahan iklim, perlindungan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan”.

Sekretaris Jenderal MHM Mohammad Abdeslam mengatakan pertemuan tersebut merupakan pertemuan serupa yang juga digelar MHM di Abu Dhabi. Tujuannya untuk membahas kontribusi para ahli dan pendapat para pemuka berbagai agama dalam mencari solusi permasalahan yang timbul akibat perubahan iklim. Selain itu, konferensi ini juga bertujuan untuk menciptakan dan menginformasikan masyarakat tentang risikonya.

“Pertemuan Asia Tenggara ini diselenggarakan dalam rangka persiapan KTT Pemimpin Agama-Agama Dunia yang akan diselenggarakan di Abu Dhabi pada tanggal 6 dan 7 November 2023,” kata Anggota Dewan Abdeslam, Jumat (29/9/2023).

Abdeslam menambahkan, Konferensi Agama dan Perubahan Iklim di Asia Tenggara sedang mempersiapkan Konferensi Para Pihak 28 (COP28) yang akan diselenggarakan di Uni Emirat Arab akhir tahun ini. “Pada COP28, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah COP, ‘paviliun keagamaan’ akan dipersembahkan oleh MKM,” kata Abdeslam.

“Paviliun Agama akan menjadi platform internasional untuk dialog antaragama mengenai perubahan iklim,” tambah Abdeslam.

Anggota Dewan Hukama Muslim Indonesia Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyampaikan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi permasalahan perubahan iklim akibat rusaknya lingkungan dan lingkungan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim nyata dan dirasakan melalui kekeringan, pemanasan global, es di Antartika, dan kenaikan permukaan laut. “Kita semua baik individu, kelompok, lembaga publik, organisasi keagamaan hendaknya bersinergi untuk menciptakan kesadaran tentang kebersihan lingkungan dan mencegah penyebaran pencemaran,” kata Prof. Quraisy Shihab.

Prof. Quraysh Shihab menambahkan, perlawanan tersebut harus dilakukan dalam skala yang sangat besar. Upaya pencegahan dampak perubahan iklim tidak lagi terbatas pada ilmu pengetahuan dan teknologi, karena para pemimpin agama harus segera bertindak untuk mengedukasi masyarakat tentang isu tersebut.

Anggota Pengurus Dewan Hukama Muslim TGB, M. Zainul Majdi menjelaskan, pertemuan tersebut akan dihadiri oleh banyak pejabat pemerintah, umat beragama dan masyarakat dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam. Myanmar dan Kamboja telah membahas banyak isu penting.

Beberapa isu utama terkait konferensi ini adalah 1) Pemerintahan dan Tantangan Perubahan Iklim: Visi, Kebijakan, Aksi; 2) Menuju teologi hijau: Bagaimana keyakinan agama membentuk pengetahuan tentang kepedulian lingkungan?; 3) peran organisasi keagamaan dan statistik dalam mitigasi dampak perubahan iklim; 4) percepatan program pengembangan keagamaan untuk mengatasi krisis lingkungan dan perubahan iklim; 5) Agama, Ilmu Pengetahuan dan Perubahan Iklim: Konsep dan Metode; dan 6) Selamatkan Bumi Bersama: Menyatukan hati nurani, tanggung jawab dan kerja sama internasional untuk mengatasi krisis lingkungan dan perubahan iklim.

Dengan menggunakan praktik terbaik yang digunakan di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, konferensi ini dirancang untuk memberikan banyak ide praktis dan efektif untuk meningkatkan upaya menghindari dampak negatif perubahan iklim.

Proposal tersebut akan disampaikan pada pertemuan puncak para pemimpin dunia dan pemuka agama yang diselenggarakan oleh Dewan Urusan Hukum Muslim di Abu Dhabi pada bulan November dan juga kepada Sekretariat Jenderal Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Sekretariat Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, Sekretariat PBB dan Forum Konferensi Asia-Dunia tentang Perubahan Iklim.

Dewan Muslimeen Hukama adalah organisasi internasional yang independen dan dipimpin oleh Grand Sheikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad al-Tayyib. MHM didirikan pada tahun 2014 di Abu Dhabi. MHM didirikan dengan tujuan untuk mendorong hidup berdampingan secara damai antara Muslim dan non-Muslim.

MHM memiliki banyak ulama, pemikir, dan orang kulit berwarna yang dikenal bijaksana, damai, dan dikenal mengedepankan toleransi, hidup berdampingan, dan saling menghormati antar sesama. Selain itu, MKM juga fokus pada permasalahan perubahan iklim dan lingkungan hidup sebagai salah satu tantangan yang mengancam umat manusia.

Baca beberapa artikel edukasi menarik di tautan ini. Hujan abu Gunung Marapi melanda 14 kabupaten di Agam, Sumatera Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Sumatera Barat menulis, 14 kabupaten terdampak abu dan hujan es Gunung Marapi. kabarbin.com.co.id 4 Desember 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *