Februari 28, 2024

JAKARTA – Setidaknya ada tiga puisi karya penyair Joko Pinurbo yang mengangkat nyamuk sebagai tema sentral dalam cerita-ceritanya.

Gadis itu berjalan sendirian

Dan payung hitam.

Tangannya gemetar

Membawa bulan

Di dalam tas.

Dalam puisi Kunan-Kunang, Jocko memasukkan kunang-kunang sebagai salah satu cara melestarikan kenangan dan pancaran cahaya.

Dalam puisi lain berjudul “Tahi Lalat”, Joko bercerita tentang hubungan ibu dan anak, dimana anak menggunakan tahi lalat sebagai kata ganti untuk mengungkapkan apa yang disukai ibu. Dalam puisi berjudul Afe Afe di Jakarta, permainan metafora tentu menarik.

Kehadiran nyamuk dapat dijelaskan dari berbagai sudut pandang. Dalam pembuatan SILARIANG: Cinta Itu (Tidak) Dijamin, kami menyinggung keberadaan kunang-kunang sebagai secercah harapan dalam diskusi, “Menurut kepercayaan zaman dahulu, kunang-kunang masih menjadi harapan bagi manusia.”

Perbincangan tersebut rupanya memberi kekuatan baru bagi Zulaikha yang sudah lelah harus lari dari keluarganya demi mengikuti kekasihnya Yusuf ketika keluarganya tidak mengizinkannya menikah.

Foto: Tomat

Ketika dijadikan film pendek, Seribu Kunang-Kunang di Jakarta banyak menginspirasi ide senimannya. Pada tahun 1998, seorang wanita muda keturunan Tionghoa dipilih dengan cermat untuk menyampaikan pesan tertentu.

Sangat menyenangkan melihat pilihan kreatif seniman di atas kertas, tapi ingatlah bahwa seni adalah seni visual. Agar dapat menjangkau pikiran khalayak, pesan harus diperlihatkan, bukan sekadar didiskusikan, agar dapat ditekankan.

Selalu menarik untuk membahas hubungan antara tahun 1998 dan seni pahat Tiongkok. Kita mengingat tahun itu sebagai salah satu tahun tergelap ketika negara ini mengalami transformasi, bencana melanda, dan banyak orang di sana terseret ke arah yang tidak diketahui. Saudara-saudari Tiongkok yang harus menyelamatkan diri mereka sendiri harus melakukan segalanya untuk melindungi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Foto: Tomat

Tapi tentu saja program radio dan informasi dari sudut pandang gadis itu saja tidak cukup. Kedua hal ini terlalu besar untuk disederhanakan dengan keputusan kreatif yang dibuat oleh pencipta. Akibatnya, film terkesan terlalu ambisius untuk menyampaikan ide-ide besar, namun kehilangan daya kreatif untuk mengeksekusinya tanpa merusaknya.

Selain itu, pendekatan kreatif dalam menjadikan tokoh utama penyair, Seribu Kunang-Kunang di Jakarta, tidak berusaha melenceng dari makna film pendek sebagai puisi. Mungkin film ini memberi jarak pada penontonnya.

Kita melihat penyair bukan sebagai “salah satu dari kita” tetapi sebagai “orang lain”. Padahal, orang yang pertama kali memindahtangankan mobil itu tidak punya utang.

Payung hitam diubah menjadi merah untuk semakin menegaskan bahwa persoalan negara yang marah bukanlah suatu masalah. Atau membawa bulan bisa diterjemahkan dengan lebih kreatif dari apa yang tertulis dalam puisi.

Foto: Tomat

Padahal, ibarat puisi, seribu burung phoenix di Jakarta punya simbol dan trik khusus. Alegori negatif di dalamnya menunggu interpretasi yang lebih negatif yang berubah dari puisi menjadi film yang lebih eksplosif. Sekiranya lebih kreatif, penulis bisa saja memadukan tema nyamuk dengan puisi-puisi Joko lainnya seperti yang disebutkan di awal artikel ini.

Tapi seperti kata Jocko, kita harus mengapresiasi niat baik pencipta yang mengangkat kisah kenangan, bukan sekadar nyamuk. Saya mengajak Anda untuk merenungkan 25 tahun yang lalu ketika negara ini terpecah dan bangsa Tiongkok terus-menerus didorong ke tengah.

Percayalah, apa yang terjadi pada tahun 1998 tidak sesederhana yang terlihat dalam puisi, dongeng, dan film. Kompleksitas yang melingkupinya sungguh melampaui apa yang bisa kita bayangkan, dan masih banyak tabir misteri yang belum terungkap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *