Februari 26, 2024

Bali – Program pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan metode penularan nyamuk Wolbachia telah diluncurkan di beberapa provinsi, termasuk Bali. Sayangnya, program yang digagas Kementerian Kesehatan di Pulau Dewata itu ditolak.

Akibatnya penerapan teknologi Wolbachia yang seharusnya dimulai pada 12-13 November 2023 di wilayah Denpasar dan Buleleng Bali terpaksa ditunda. Karena banyak orang yang takut dan khawatir karena tidak mengetahui risiko dan manfaat dari teknologi ini. Gulir untuk informasi lebih lanjut.

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Direktur Jenderal Perlindungan Kementerian Kesehatan Dr. Maxi Rain Rondonuvu pun mengomentari penolakan tersebut. Menurutnya, sosialisasi mengenai nyamuk ber-Wolbachia di Bali masih sedikit.

“Yang pasti kalau diterapkan di Bali, sosialisasinya sangat sedikit, sehingga masyarakat di sana tidak terinformasi manfaatnya, perlu sosialisasi terus-menerus,” kata Maxey dalam konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan. pada tahun 2023 Jumat, 24 November, sebenarnya terjadi.

Selain itu, kata Maxey, program nyamuk Wolbachia dijalankan oleh satu donor sehingga diyakini kurang ada koordinasi antara dinas dan lapangan. Berbicara mengenai merebaknya penipuan, Maxey mengatakan Kementerian Kesehatan akan terus berupaya memberikan informasi yang baik dan benar.

Sementara itu, dosen sekaligus peneliti Universitas Gadja Mada (UGM) prof. Dr. Dijelaskan oleh Adi Uttarini, MA, MPH, Ph.D.

Nomor satu, kegiatan sanitasi, penghapusan kelambu, 4M. Kedua, khusus DBD, masyarakat diimbau memahami bahwa virus penyebab DBD adalah virus DBD yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti, ujarnya. .

“Masyarakat dihimbau untuk memisahkan kedua hal tersebut, lalu pesan lainnya adalah target melawan Wolbachia adalah virusnya, bukan hanya nyamuknya. Nyamuk yang ber-Wolbachia itu kita hilangkan untuk melawan virus tersebut. Kandangnya harus tetap jalan karena nyamuknya tidak hanya satu tapi banyak teman,” lanjutnya.

Juga Prof. Menurut Yuto, sapaannya, cara penyebaran nyamuk Wolbachia yang paling efektif pertama kali diamati di Yogyakarta adalah dengan meletakkan telur Aedes aegypti dalam ember kecil berisi air berisi makanan.

“Ember ini penuh lubang-lubang sehingga seminggu atau dua minggu akan tumbuh nyamuk dewasa. Setiap dua minggu sekali kita akan mengganti telurnya dengan air dan memberi makan di ember ini. Tidak setiap rumah akan diberikan ember. Kita bisa menempatkan ember itu. 75 meter atau dalam radius 75 meter Setelah musim “Wolbachia 6 Per bulan, 60 persen nyamuknya ber-Wolbachia, jadi kami hentikan. Hal serupa juga dilakukan di Jogja. Kota lain yang menjadi percontohan implementasi,” jelasnya.

“Negara lain yang melakukan ini tidak menggunakan ember, mereka menggunakan wadah yang berbeda. Tinggal dimasukkan ke dalam kapsul, cara mendistribusikannya banyak. Saat ini ember dipilih karena aspek budaya, ember sering digunakan untuk hal-hal baik. , bukan ember, bukan ember.” dan kami menggunakan ember. “, Prof. Yut menambahkan. Terdeteksi Kasus Pneumonia di Jakarta, Siap-siap Pakai Masker Lagi, Kementerian Kesehatan merilis delapan rekomendasi WHO kepada masyarakat untuk mencegah penularan pneumonia mikoplasma. kabarbin.com.co.id 2023 6 Desember

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *