Februari 25, 2024

Liputan6.com, Jakarta PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) dengan gamblang menunjukkan alasan generasi milenial dan generasi Z lebih memilih pinjaman gaji dibandingkan kartu kredit.

Danamon mencatat saat ini penetrasi kartu kredit di kalangan Milenial dan Gen Z hanya 7,60%.

“Sebagai perbandingan, tingkat penggunaan produk baru seperti Alipay hampir dua kali lipat dari kartu kredit, mencapai 13,80%,” kata Tresia Sarumpaet, kepala bisnis tanpa jaminan di Bank Danamon, dalam acara kelas pers di Menara Bank Danamon. Berpengaruh Jakarta, Selasa (5/12).

Tresia mengatakan generasi milenial dan generasi Z sangat tertarik dengan jalur kredit PayLater karena proses pengajuan kreditnya relatif lebih mudah dan lugas. Sebagai perbandingan, proses pengajuan kartu kredit jauh lebih detail.

Tresia menjelaskan: “Sebagai pengguna kartu kredit, saya mencoba PayLater. Mengapa? Supaya saya bisa merasakan pengalaman Milenial dan Gen Z. Mudah sekali dan saya berpikir, wah, gimana? Cepat sekali sekarang. “Rencana Kredit

Selain itu, alasan generasi muda memilih mengajukan kredit melalui PayLater adalah karena memerlukan dokumen yang lebih sedikit dibandingkan kartu kredit. Artinya, calon debitur hanya perlu memiliki kartu tanda penduduk (KTP).

“Kartu kredit misalnya, membutuhkan banyak data, antara lain data pekerjaan, data rumah, data kontak darurat, bahkan data kontak pascabayar, atau data pihak-pihak yang dapat digunakan untuk melakukan pembayaran,” kata Tricia. .

Namun, suku bunga yang dibayarkan pada kartu kredit jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kartu kredit. Dengan kata lain, tingkat bunganya mencapai 0,3% per hari. Sedangkan bunga pinjaman kartu kredit sebesar 1,75% per bulan.

Jadi kalau fintech, bunganya sekarang 0,3% per hari. Itu 30 kali sebulan, yang kalau setahun jadi 365 hari. Sedangkan bunga kartu kredit 1,75% per bulan, jelas Tresia.

Oleh karena itu, Tresia menghimbau generasi muda untuk lebih pintar dalam mendapatkan pinjaman Paylater yang kini sedang menjadi tren. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pinjaman yang tidak menjadi beban keuangan di kemudian hari.

“Namun dalam mengambil pinjaman apapun harus kita gunakan dengan bijak,” tutup Tricia.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan salah satu bahaya generasi muda terjerumus utang pascabayar adalah sulitnya mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Perlu diingat bahwa username Paylater akan masuk dalam daftar sistem layanan informasi keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK) sebagai acuan kepatuhan kredit.

“PayLater sudah masuk SLIK kita. Banyak anak muda yang berniat mengajukan KPR rumah pertamanya, namun tidak bisa karena terlilit utang ke Paylater,” kata Direktur Eksekutif Peraturan Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perilaku Berusaha OJK Friderica Widyasari Dewi, Jumat (18/7), Menara Radius Prawiro di Jakarta Pusat.

Sekadar informasi, Paylater merupakan layanan penangguhan pembayaran atau hutang yang jatuh tempo nantinya. Kiki mengatakan, nominal utang Paylater untuk kalangan muda biasanya relatif kecil, berkisar Rp 300.000 hingga Rp 400.000. Namun seiring berjalannya waktu, bunga utang tersebut menumpuk karena ketidakmampuan membayar cicilan.

Kiki menyoroti masalah ini tetapi memiliki nilai kredit yang buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *