Maret 3, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Pengusaha mempunyai peranan penting dalam menunjang pertumbuhan perekonomian nasional. Indeks Kewirausahaan Global (Global Entrepreneurship Index/GEI) menunjukkan bahwa negara-negara maju memiliki rata-rata jumlah wirausaha sebesar 14 persen dari jumlah penduduknya. Namun jumlah wirausaha Indonesia menurut data GEI hanya 3,1 persen. Sugianto Halim, pendiri Sevim, sebuah perusahaan teknologi informasi dan pengembangan, berbagi tips sukses dalam memulai bisnis, khususnya di era digital, berikut ini:

1. Menciptakan usaha yang dapat menyelesaikan permasalahan di masyarakat

Halim menemukan, tidak sedikit pengusaha yang berani memulai usahanya tanpa memperhatikan permasalahan yang ada di masyarakat. Padahal, bisnis memerlukan kecocokan antara pembeli dan penjual. “Seperti menjual minuman dingin di cuaca panas, menawarkan daging panas di pegunungan dan tempat dingin. Kami ingin konsisten,” kata Halim.

Oleh karena itu, nasehat pertama menurut Halim adalah pentingnya menciptakan usaha yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Atau disebut dengan “Problem-Solution Fit”. Dengan ide ini para pengusaha dapat menawarkan solusi sesuai permasalahan masyarakat, dan masyarakat mau membeli produk yang ditawarkan karena bermanfaat dalam menyelesaikan permasalahan.

2. Interaksi dengan pelanggan dan pengguna produk

Kompatibilitas antara pembeli dan penjual dapat terjalin jauh sebelum pengiriman produk. Menurutnya, pelanggan atau klien bisa diajak berbincang dan bertanya mengenai produk yang mereka butuhkan.

Nasihat Halim yang kedua dalam memulai bisnis di era digital adalah pengusaha perlu berkomunikasi dengan pelanggan dan pengguna produknya. Apalagi di era digital ini, berbagai aplikasi internet dapat digunakan dengan mudah dan murah untuk berkomunikasi. “Gunakan undangan, kuisioner, grup WhatsApp dan berbagai media online untuk berinteraksi. “Tanyakan kepada pelanggan dan pengguna produk apa yang mereka inginkan, lalu teliti dan verifikasi!” kata Halim.

3. Gunakan dari mulut ke mulut (dari mulut ke mulut)

Halim percaya bahwa investor terbesar dalam bisnis adalah pelanggan. Karena pelanggan tidak hanya berperan sebagai sumber pendapatan saja, namun juga merupakan tenaga penjualan yang paling efektif ketika mereka merasa puas dengan produk yang diterimanya.

Kepuasan ini akan menghasilkan strategi pemasaran yang disebut Word of Mouth. Oleh karena itu, sebagai nasihat terakhir, menurut Halim, para pengusaha di era digital harus memanfaatkan kekuatan promosi dari mulut ke mulut. Hal ini dicapai dengan memberikan layanan terbaik dan memulai komunitas pengguna.

“Perusahaan harus fokus pada kesuksesan pelanggan, menggunakan teknologi, informasi, dan media sosial untuk mengembangkan bisnisnya. Karena pelanggan yang puas akan membagi kepuasannya kepada teman-temannya. “Ini terjadi di Sevi, kami sudah dua puluh tahun di sini dan jumlahnya banyak, karena dukungan pelanggan yang puas,” kata Halim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *