Februari 28, 2024

Liputan6.com Direktur PT Pertamina International Shipping (PIS) di Jakarta, Yuki Fernadi menjelaskan sejumlah strategi untuk mengurangi polusi dan mendorong pelayaran ramah lingkungan untuk ekonomi biru. Ia menambahkan, sistem PIS akan mengurangi emisi sebesar 9% pada tahun 2022, atau setara dengan 1,9 megaton karbon dioksida.

Selain itu, beliau menjelaskan empat strategi penurunan emisi. Pertama, PIS memiliki 19 kapal ramah lingkungan dan tiga kapal memenuhi standar emisi tiga tingkat Organisasi Maritim Internasional (IMO), dengan kata lain PIS memiliki desain kapal ramah lingkungan, ujarnya.

Dijelaskannya, strategi kedua adalah memperbaharui armada sesuai dengan Konvensi Internasional Pencegahan Pencemaran Kapal (MARPOL) dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2014 tentang penghentian pengoperasian lambung kapal.

Ketiga, mengurangi konsumsi bahan bakar dengan melakukan pembersihan bahan bakar (menghasilkan efisiensi 4%), meningkatkan kecepatan operasi kapal (efisiensi 22%), serta menyertakan peralatan penyimpanan energi (efisiensi 2%), jelas Yuki.

Ia juga mengatakan, strategi keempat adalah penurunan emisi, salah satunya adalah gas Pertamina Amaryllis di atas kapal Very Large Gas Carrier (VLGC).

“Kami menggunakan 60% bensin dan sisanya biofuel. Tidak hanya itu, PIS juga mengembangkan amonia dan hidrogen,” kata Yuki.

Yuki menjelaskan, PIS memiliki tiga langkah untuk mengurangi emisi. Dia mengatakan: Pertama, fase jangka pendek akan berlangsung pada tahun 2022 hingga 2025, dan ada strategi untuk membatasi operasional kapal.

Oleh karena itu, strategi jangka menengah periode 2026 hingga 2030 adalah beralih bahan bakar dan menggunakan kapal ramah lingkungan, jelasnya.

Terakhir, Yuki mengungkapkan ada strategi jangka panjang yang akan diterapkan pada tahun 2030 hingga 2060.

“PIS bertujuan untuk mengurangi emisi sebesar 20.000 ton setara karbon dioksida dengan menggunakan sumber energi alternatif seperti hidrogen dan amonia hijau,” ujarnya.

“Kami menyadari bahwa tren masa depan haruslah mengurangi emisi dari sektor pelayaran dan maritim sehingga kita memiliki peta jalan menuju NZE 2060,” jelas Yuki.

Vivi Yulaswati, Wakil Direktur Perencanaan Pembangunan Nasional Kementerian Kelautan dan Sumber Daya Alam di Babenas, mengatakan pemerintah telah menyiapkan peta jalan menuju ekonomi biru. Menurutnya, industri maritim berperan besar dalam pengembangan ekonomi biru.

Dia berkata: Kami telah mengembangkan rencana aksi untuk ekonomi biru dan indeks ekonomi biru untuk memantau pembangunan.

Vivi menjelaskan: “Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendorong berkembangnya ekonomi biru di berbagai daerah, salah satunya adalah Pertamina Group.”

Sejalan dengan itu, Alfredo Giron, Ketua Agenda Aksi Kelautan Forum Ekonomi Dunia, mengungkapkan bahwa Nava telah setuju untuk meluncurkan proyek National Blue Carbon Action Partnership (NBCAP) dengan Kementerian Koordinasi Maritim dan Investasi.

“Kemitraan ini diharapkan dapat membantu memulihkan ekosistem karbon biru Indonesia,” ujarnya. Selain itu, Indonesia memiliki sumber daya ekosistem laut dan pesisir yang kaya, sehingga berdampak nyata terhadap perlindungan lingkungan dunia.

“Kerja sama antara pemerintah dan forum internasional ini harus didukung oleh pihak swasta dan daerah pesisir,” tambah Nava.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *