Maret 3, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tak sedikit anak-anak hingga orang dewasa enggan menerima vaksinasi karena takut jarum suntik. Inovasi terbaru dari para peneliti di Universitas Oxford mungkin bisa menjadi solusinya.

Alih-alih menggunakan jarum suntik, para peneliti di Universitas Oxford telah mengembangkan metode pemberian vaksin menggunakan USG. Berdasarkan penelitian pada tikus, cara ini tidak hanya bisa memasukkan vaksin ke dalam kulit, tapi juga bisa bekerja lebih efektif dibandingkan jarum suntik.

Metode ini dikembangkan dalam penelitian yang dipimpin oleh Darcy Dunn-Lawless. Untuk melakukan vaksinasi dengan USG, tim peneliti mencampurkan molekul vaksin dengan protein berbentuk cangkir.

Setelah itu, campuran vaksin tersebut dioleskan pada tubuh tikus. Langkah selanjutnya, tim peneliti menggunakan mesin USG pada area yang diolesi campuran vaksin selama 90 detik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang suara yang dipancarkan USG mampu mendorong campuran vaksin ke lapisan atas kulit. Begitu sampai di kulit, gelembung berisi vaksin mulai terbentuk. Gelembung-gelembung tersebut kemudian dipecah oleh gelombang suara dari USG yang masih dipancarkan.

Vaksin suntik bisa menjangkau area yang lebih dalam dibandingkan metode USG. Sebagai perbandingan, metode USG menyalurkan vaksin hanya ke lapisan atas kulit saja, sedangkan metode suntikan vaksin menyalurkan vaksin ke otot-otot di bawah kulit.

Meski cakupan vaksin dengan metode USG jauh lebih dangkal, Dunn-Lawless mengatakan hal itu tidak menjadi masalah. Kedalaman vaksin yang diperoleh dengan metode USG cukup untuk membuat vaksin dapat bekerja secara efektif.

Tak hanya itu, proses pemecahan gelembung dengan metode USG dapat membantu mengangkat sel kulit mati. Kondisi ini memungkinkan lebih banyak molekul vaksin yang masuk saat proses vaksinasi USG.

Yang tak kalah menarik, tim peneliti mengungkapkan jumlah molekul vaksin yang bisa dikeluarkan dengan metode USG 700 kali lebih sedikit dibandingkan metode injeksi. Namun tikus yang divaksinasi dengan metode USG mampu menghasilkan antibodi lebih banyak dibandingkan tikus yang divaksinasi dengan metode suntikan.

Tim peneliti belum mengetahui penyebab hal tersebut bisa terjadi, seperti dilansir Metro, Selasa (23/5/12). Namun tim peneliti menilai tingginya kadar antibodi yang dihasilkan metode USG dipengaruhi oleh jumlah sel kekebalan yang lebih banyak di kulit dibandingkan di otot.

Metode vaksinasi tanpa jarum sebenarnya bukanlah hal baru. Sebelumnya, ada inovasi vaksinasi tanpa jarum suntik yang menggunakan alat lain, seperti obat semprot hidung dan obat tetes mulut. Studi vaksinasi USG ini dipresentasikan pada konferensi Acoustical Society of America 2023 di Sydney, Australia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *