Maret 3, 2024

Liputan6.com, Jakarta – Beri-beri jantung, juga dikenal sebagai beri-beri basah, merupakan manifestasi parah dari kekurangan tiamin (vitamin B1) yang mempengaruhi sistem kardiovaskular.

Tiamin adalah nutrisi penting yang terlibat dalam metabolisme energi, dan kekurangannya dapat menyebabkan berbagai gejala neurologis dan kardiovaskular.

Penyakit jantung telah dikaitkan dengan beri-beri dan adanya racun yang dihasilkan oleh jamur, khususnya mitokosin, pada nasi. Beras dapat terkontaminasi jamur seperti spesies Aspergillus flavis atau Fusarium. Jamur ini dapat menghasilkan mikotoksin, dan satu mikotoksin spesifik, yang disebut aflatoksin, telah dikaitkan dengan defisiensi tiamin.

Aflatoksin adalah racun yang dihasilkan oleh jamur tertentu, khususnya Aspergillus flavis dan Aspergillus parasiticus. Jamur ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanaman, termasuk pada biji-bijian seperti padi.

Aflatoksin diketahui mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan diri, salah satu dampaknya adalah terganggunya penyerapan dan pemanfaatan tiamin. Aflatoksin dapat menurunkan bioavailabilitas tiamin, sehingga berkontribusi terhadap defisiensi tiamin.

Kekurangan tiamin, pada gilirannya, dapat menyebabkan beri-beri, termasuk penyakit jantung, yang terutama mempengaruhi sistem kardiovaskular. Otot jantung melemah, dan orang tersebut akan mengalami gejala seperti detak jantung cepat, sesak napas, dan edema (penumpukan cairan). Gejala beri-beri pada jantung

Beri-beri jantung terutama menyerang jantung, menyebabkan gejala serangan jantung seperti kardiomiopati dilatasi, yang melemahkan kemampuan pemompaan.

Ketika otot jantung melemah, jantung berdetak lebih cepat untuk mengimbangi berkurangnya kapasitas pemompaan.

Otot jantung yang melemah akan kesulitan memompa darah secara efektif, sehingga mengakibatkan oksigen ke jaringan tubuh tidak mencukupi dan kesulitan bernapas.

Retensi dan penumpukan cairan di jaringan, terutama di tungkai dan kaki. Hal ini disebabkan jantung tidak mampu memompa darah secara efisien sehingga menyebabkan cairan menumpuk di pembuluh darah.

Berkurangnya aliran darah dan suplai oksigen ke jaringan tubuh dapat menyebabkan kelelahan dan kelemahan. Dalam kasus yang parah, perubahan warna kebiruan pada kulit dan selaput lendir bisa terjadi karena kekurangan oksigen dalam darah.

Penting untuk diperhatikan bahwa gejala beri-beri pada jantung dapat berkembang dengan cepat dan dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani.

Selain gejala kardiovaskular, individu dengan defisiensi tiamin juga mungkin mengalami gejala neurologis, yang lebih merupakan ciri khas beri-beri kering.

Gejala neurologis mungkin termasuk kesulitan berjalan (ataksia), hilangnya sensasi pada ekstremitas (neuropati perifer) dan kebingungan mental.

Penting untuk diingat bahwa tidak semua beras terkontaminasi aflatoksin, bergantung pada berbagai faktor seperti kondisi budidaya, praktik pertanian, dan iklim.

Selain itu, meskipun beras yang terkontaminasi jamur berpotensi menjadi sumber paparan aflatoksin, produk makanan lain juga mungkin terkontaminasi.

Untuk mengurangi risiko kekurangan tiamin dan penyakit terkait seperti beri-beri, penting untuk memastikan pola makan yang bervariasi dan seimbang, penyimpanan makanan yang tepat dan praktik kebersihan, dan untuk mengatasi faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap pertumbuhan jamur pada produk makanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *