Februari 27, 2024

Liputan6.com, Jakarta PT Pertamina (Persero) menegaskan kesiapannya menjadi pemain utama penyimpanan karbon di Indonesia.

Hal itu disampaikan Senior Vice President Riset dan Inovasi Teknologi Pertamina, Oki Muraza pada Konferensi Tingkat Tinggi atau Conference of the Parties Perubahan Iklim PBB (COP28) tahun 2023.

Oki menjelaskan, kesiapan Pertamina dibuktikan melalui program Carbon Capture Conservation Use (CCS) dan Carbon Capture Conservation Use (CCUS).

“Pertamina memandang CCUS sebagai upaya peningkatan jumlah migas kita sekaligus mendukung target NZE,” kata Oki seperti dikutip situs BUMN, Selasa (5/11/2023).

Di paviliun Indonesia COP28, Sabtu (2/12) Oki mengungkapkan, saat ini terdapat potensi CCS sebesar 400 gigaton (GT) dan kapasitas usaha CCS/CCUS telah mencapai 60 juta ton per tahun (MTPA) di Indonesia.

Memanfaatkan peluang tersebut, Pertamina kini memiliki delapan site CCS/CCUS yang pengembangannya bekerja sama dengan mitra strategis lainnya.

Dari delapan lokasi tersebut, dua di Sumatera, empat di Jawa, dan dua di Sulawesi.

Sejauh ini, inisiatif CCS/CCUS sedang dalam tahap studi kelayakan yang mencakup rekayasa bawah tanah, fasilitas permukaan, dan keekonomian. proyek pertamina CCUS

Salah satu proyek CCUS yang dikembangkan Pertamina berada di Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Kawasan ini mempunyai potensi penyimpanan karbon sebesar 146 ribu ton.

Proyek Pertamina CCS juga sedang dikembangkan sebagai platform yang mendukung produksi amonia dan hidrogen rendah karbon.

Kemudian Oki menuturkan, rata-rata CO2 dari pabrik hidrogen di Balikpapan sebesar 1,4 juta ton per tahun.

Sedangkan kapasitas penyimpanannya sebesar 270 juta ton. Sedangkan produksi amoniak dilakukan di Pabrik Amoniak Banggai.

CO2 dari pabrik amonia mencapai 1 juta ton per tahun. Kapasitas penyimpanannya mencapai 273 juta ton.

“Jika semua berjalan baik maka tahun 2030 akan berakhir dan penyimpanan sudah bisa beroperasi,” kata Oki.

Oki mengatakan belanja modal menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan CCS dan CCUS.

Hal ini dapat diatasi dengan mengembangkan solusi berbasis alam (NBS) karena biayanya lebih murah. Solusi lainnya adalah penangkapan metana.

Oki menegaskan, semua akan tercapai jika semua pihak bekerja sama. “CCS/CCUS adalah bisnis dimana kita bisa belajar dan membangun ilmu bersama,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Direktur Eksekutif Indonesia CCS Center Belladonna Maulianda juga menyampaikan bahwa CCS merupakan inovasi yang paling mungkin dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim dan mendorong target netral karbon.

Dijelaskannya, CCS memiliki berbagai manfaat seperti pengurangan biaya, pencegahan risiko perdagangan, penciptaan lapangan kerja, dan mendorong pengembangan industri rendah karbon.

Sementara itu, General Manager CCS Global Advocacy Institute, Guloren Turan, meyakini Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mengembangkan CCS.

Menurut Guloren, Indonesia memiliki sumber daya simpanan dan telah berupaya mengembangkan kapasitas dan kerangka kebijakan.

Salah satu proyek CCUS yang dikembangkan Pertamina berada di Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Kawasan ini mempunyai potensi penyimpanan karbon sebesar 146 ribu ton.

Proyek Pertamina CCS juga sedang dikembangkan sebagai platform pendukung produksi amonia dan hidrogen rendah karbon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *