Februari 28, 2024

Liputan6.com, Jakarta – Berdasarkan laporan Ipsos, respon positif masyarakat Indonesia terhadap kehadiran kecerdasan buatan (kecerdasan) mencapai 78%. Namun sangat disayangkan hal tersebut tidak sesuai dengan generasi dan pemahaman yang benar terhadap teknologi ini.

Sementara itu, dalam pekerjaan sehari-hari, mereka menjadi pengguna aktif kecerdasan buatan.

CEO sekaligus pendiri Botika, Ditto Anindita mengatakan, kecerdasan buatan sering digunakan dalam pekerjaan. Misalnya media sosial yang memiliki kamera cantik atau biasa kita sebut dengan filter foto. Ini adalah salah satu contoh kecerdasan buatan, namun tidak semua orang mengetahuinya.

Faktanya, banyak smartphone yang memiliki teknologi AI di dalamnya, seperti aplikasi peta atau rekomendasi konten media sosial, ujarnya dalam acara Catatan Wens Manggut yang digelar, Selasa (5/12/2023).

Pada dasarnya anak muda di Indonesia adalah pengguna AI. Namun karena kurangnya kesadaran dan pemahaman, banyak dari mereka yang terkena kebohongan dan penafsiran yang keliru.

Oleh karena itu, untuk menyadarkan mereka akan tantangan teknis ini, penting untuk menjadi tempat penelitian lintas. Seperti aplikasi pendeteksi hoax yang digunakan untuk mengecek apakah suatu konten asli atau dibuat oleh AI.

Pada saat yang sama, kata Ditto, kesadaran dan pemahaman terhadap teknologi AI bukanlah satu-satunya cara untuk mencegah munculnya informasi yang salah.

Dengan pemahaman yang benar, generasi muda dapat memanfaatkan AI untuk kebaikan. Mulailah dengan membuat konten video yang dapat diterjemahkan, membuat filter, atau membuat presentasi.

“AI adalah sebuah alat, dimana penggunalah yang menentukan apakah suatu teknologi berbahaya atau tidak,” kata Ditto.

Sejauh ini, dari segi keamanan AI, masyarakat Indonesia belum menyadarinya. Seperti yang dikatakan Ditto, teknologi AI dapat disalahgunakan untuk membuat konten atau data palsu.

Ia berpesan kepada para pengguna media sosial, khususnya generasi muda, “sebagai pengguna aktif media sosial, kita harus lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya dengan konten-konten yang ada. Karena bisa saja konten tersebut dibuat oleh kecerdasan buatan.”

Pada saat yang sama, dengan berkembangnya kecerdasan buatan, tampaknya banyak jejaring sosial mulai menerapkan langkah-langkah keamanannya sendiri untuk melindungi penggunanya.

Media sosial sudah mulai memblokir konten di platform mereka dengan mengidentifikasi konten mencurigakan yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.

Sementara itu, teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi ancaman yang harus diwaspadai pada pemilu 2024. Pasalnya, teknologi tersebut dapat menciptakan informasi palsu yang dapat menimbulkan perdamaian dalam pemilu.

Seperti diberitakan Cek Fakta Liputan6.com sebelumnya, pendiri startup teknologi dan digital Ferry Sutanto mengatakan, berbeda dengan pemilu 2019 yang berbasis media sosial, pemilu 2024 akan lebih banyak kontennya dengan teknologi AI.

Ia menambahkan, foto atau video tokoh-tokoh seperti presiden dan presiden, masyarakat dan kerabat di Facebook pasti akan dipublikasikan. Mereka akan dibuat untuk mengatakan atau melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan dengan teknologi palsu.

“Kalau kita lihat pemilu 2019, topik atau topiknya berbasis media sosial. Jadi tahun depan, bahkan mulai sekarang, pemilu akan menjadi topik dan banyak menggunakan AI, Anda harus mewaspadai hal itu 11/2023).

Dalam hal ini, masyarakat harus mendukung dirinya dalam pendidikan literasi digital tentang teknologi kognitif. Hal ini penting dilakukan agar mereka bisa mengetahuinya dan tidak tertipu dengan teknologi tersebut.

Sementara itu, Ferry menjelaskan hal-hal yang harus dilakukan masyarakat agar terhindar dari bahaya AI, antara lain selalu mengedukasi diri terhadap informasi dari saluran publik, tidak mempercayai aplikasi, dan mengecek setiap informasi yang diterima.

Yang kedua adalah kita harus terus meragukan diri sendiri, jangan langsung percaya, kecuali koran utama yang menjadi basisnya. Maka lakukanlah. diri sendiri.-riset, yang keempat, paling sederhana adalah mematikan download otomatis dan aplikasi WhatsApp,” jelasnya.

Disinggung bagaimana cara membedakan AI, Ferry mengaku sulit. Menurutnya, alat AI kini juga diperlukan untuk mengidentifikasi konten AI yang semakin canggih.

“Sekarang sangat sulit untuk membedakannya. Tentu kita membutuhkan kecerdasan buatan lain untuk menganalisis kenyataan ini. Dengan mata telanjang, sulit untuk membedakan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan buatan. Ini menjadi semakin logis. Oleh karena itu, kami membutuhkan alat AI untuk menganalisis “metadata dalam gambar atau video,” tambah Ferry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *