Maret 3, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengakui penyaluran kredit ramah lingkungan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan pelaku usaha untuk terlibat dalam proyek ramah lingkungan.

Oleh karena itu, permintaan terhadap green money rendah, kata Head of Treasury and International Banking Bank Mandiri Eka Fitria pada konferensi pers Mandiri Sustainability Forum, Kamis (7/12/2023).

Oleh karena itu, lanjut Eka, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran green money di kalangan pelaku usaha. Selain itu, pemberian insentif juga dinilai efektif dalam mendorong investasi hijau.

Menurut Eka, saat ini terdapat beberapa program insentif yang diusulkan oleh pemerintah, pemerintah, dan dunia usaha. Meski demikian, Eka menilai program tersebut masih perlu diperkuat, terutama terkait green finance.

Dari sisi sumber daya, kata Eka, green finance di Indonesia masih didorong oleh isu sosial dibandingkan isu lingkungan. Untuk itu, menurut Eka, sangat penting untuk meningkatkan investasi hijau di Indonesia.

Hingga triwulan III tahun 2023, Bank Mandiri telah mengalokasikan pinjaman dengan porsi tetap sebesar Rp 253 triliun atau 24,9% dari total pinjaman korporasi. Dengan harga tersebut, investasi hijau telah mencapai Rp 122 triliun atau setara dengan 12 persen penyaluran utang pada periode tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *