Maret 3, 2024

JAKARTA – Indonesia tengah fokus pada penyebaran dua penyakit yang terjadi belakangan ini, yakni Mycoplasma pneumoniae dan Covid-19. Jumlah kasusnya juga dilaporkan meningkat.

Kementerian Kesehatan RI memastikan total penderita pneumonia mikoplasma pada 6 Desember 2023 sebanyak 6 orang yang semuanya merupakan anak-anak. Sementara itu, kasus Covid-19 juga mengalami peningkatan meski angkanya masih jauh di bawah variabel penyebaran Delta pada tahun 2021. Peningkatan kasus yang dicatat Kementerian Kesehatan sebesar 80 persen.

Jadi pertanyaannya sekarang, mana yang lebih berbahaya, pneumonia mikoplasma atau Covid-19? Sadarilah bahwa hal ini meningkatkan kewaspadaan kolektif kita.

Menurut Dokter Spesialis Anak RSCM dr Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), angka kematian dan tingkat keparahan bakteri mycoplasma pneumoniae penyebab mycoplasma pneumoniae lebih rendah dibandingkan Covid-19.

“Dibandingkan Covid-19, tingkat keparahan dan mortalitas (kematian) akibat pneumonia mikoplasma lebih rendah, hanya 0,5% hingga 2%,” kata dr Nastiti dalam konferensi pers virtual baru-baru ini.

“Itu juga berlaku bagi mereka yang mempunyai penyakit,” ujarnya.

Oleh karena itu, pneumonia yang disebabkan oleh bakteri mikoplasma sering disebut pneumonia berjalan. Alasan pemberian nama ini adalah karena gejalanya seringkali ringan sehingga pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit dan bisa menjalani rawat jalan.

“Pasien pneumonia mikoplasma kondisi klinisnya relatif baik sehingga bisa beraktivitas seperti biasa,” jelas dr Nastiti.

Makanya sebagian besar kasus bisa diobati dengan rawat jalan, obatnya diberikan secara oral, dan anak bisa sembuh dengan sendirinya, ujarnya.

Selain itu, Dokter Spesialis Paru RS Persahabatan, Dr. Erlina Burhan mengatakan, pneumonia yang disebabkan oleh bakteri mikoplasma bukanlah penyakit baru. Bakteri penyebab peradangan akut pada paru-paru sudah ditemukan sejak lama, bahkan pada tahun 1930-an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *