Februari 25, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG —  Budidaya padi belum begitu populer di kalangan generasi milenial di Kabupaten Malang. Hal itu berdasarkan hasil pelatihan bertani selama seribu tahun yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang sejak tahun 2021.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera mengatakan pihaknya telah memberikan pelatihan kepada 6.000 orang generasi milenial di Kabupaten Malang mulai tahun 2021. , mempelajari pangan pertanian, “hortikultura, lalu setelah panen, produksi kopi, barista, dan peternakan,” kata Avicenna saat dihubungi pihak Republik.

Sebagian besar peserta menjadi petani di komunitasnya. Namun banyak orang yang ingin bekerja di bidang hortikultura kopi. Lalu ada juga yang lebih suka melihat tren setelah dikoleksi, seperti barista dan lain-lain.

Diakuinya, kendala yang dihadapinya adalah kurangnya minat terhadap tanaman padi. Di antara 6.000 orang yang berpartisipasi, hanya 200 orang yang memilih menanam padi. Padahal, menurutnya jumlah orangnya kurang dari 200 orang.

Avicenna tak paham kenapa generasi milenial tidak menyukai tanaman padi. Meski demikian, ia meyakini ada konsep budidaya padi yang merupakan petani sesungguhnya.

Selain itu, bidang teknologi maju belum sepenuhnya merambah ke bidang persawahan. Belum lagi petani padi yang banyak menggarap lahan, seperti bercocok tanam.

Menyadari kondisi tersebut, Avicenna pun meyakini hal tersebut merupakan tindakan kolektif yang harus diselesaikan. “Soalnya bagaimana membangkitkan industri pertanian agar bisa terlaksana dengan baik, yang utama adalah membangkitkan minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 2013. Saat ini jumlah petani di Indonesia sebanyak 29,3 juta petani, menurun dibandingkan tahun 2013. ketika mencapai 31 juta petani. Petani di Indonesia didominasi oleh pertanian tradisional.

Sekretaris Jenderal BPS Atqo Mardiyanto mengatakan, meski jumlah Organisasi Perdagangan Mandiri (UTP) mengalami penurunan, namun jumlah Usaha Pertanian Rumah Tangga (RTUP) mengalami peningkatan sebesar 8,74 persen. Saat ini terdapat 28,4 juta RUP di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *