Maret 3, 2024

Liputan6.com, Jakarta – Kualifikasi tenaga cadangan kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkesi) terus ditingkatkan hingga memenuhi standar global yang dipersyaratkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Untuk itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pada Selasa (12 Mei) mengukuhkan personel cadangan Tim Tanggap Darurat Tipe 2 (TCK-EMT) di Bumi Perkemahan dan Wisma Wisata Cibubur, Jakarta.

Menkes berharap dengan adanya pelatihan pasukan cadangan kesehatan ini bisa berujung pada sertifikasi WHO bagi Indonesia.

“Saya berharap latihan ini di organisasi kami sengaja dilaksanakan. Tujuannya agar Tim Cadangan Kesehatan Indonesia (TCK-EMT) mendapat persetujuan WHO untuk secepatnya pindah ke Tipe 2,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi.

Sebelumnya Kementerian Kesehatan telah mengkonfirmasi TCK-EMT Tipe 1. Kelompok ini dikerahkan untuk bencana alam di Turki.

Namun, TCK-EMT Tipe 1 hanya dapat memberikan pertolongan pertama dan pengobatan kepada pasien di bawah umur. TCK-EMT Tipe 1 tidak diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai standar yang ditetapkan WHO. TCK-EMT dapat melakukan operasi jika tipe 2.

Untuk itu, Menteri Kesehatan Budi mengukuhkan EMT TCK Tipe 2 Indonesia dengan tujuan mendapatkan sertifikasi WHO. Dengan begitu, bantuan kesehatan Indonesia kepada korban bencana alam bisa lebih maksimal.

“Ada 10 negara yang mendaftarkan tipe 2 di tim cadangan kesehatannya. Jadi, saya ceritakan ke teman-teman semua. Ayolah, bangsa kita bangsa yang besar, jumlah penduduknya terbesar keempat di dunia dan harus menjadi bagian dari negara dengan TCK-EMT Tipe 2,” kata Menteri Kesehatan Budi.

Sumarjaya, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, mengatakan para cadangan kesehatan ini bukan pemain sepak bola, melainkan personel inti yang direlokasi ketika terjadi bencana dan kapasitas tempat yang ada tidak mencukupi.

Menurut standar WHO, ada empat jenis TCK-EMT. Kementerian Kesehatan mengkonfirmasi TCK-EMT Tipe 1 fixed dan mobile di 11 wilayah di Indonesia pada Mei 2023. Untuk TCK-EMT tipe 2, dari 166 negara, hanya 10 negara yang memiliki sertifikasi TCK-EMT tipe 2 dari WHO.

“Kami berharap ini menjadi inspirasi kami untuk mengembangkan TCK-EMT Tipe 2,” kata Sumarjaya.

Setelah pelatihan dan validasi ini, TCK-EMT Tipe 2 dipantau oleh WHO untuk mendapatkan sertifikasi. TCK-EMT Tipe 2 didukung oleh 90 orang pegawai dari bidang farmasi, ortopedi, bedah, penyakit dalam, dan pediatri yang semuanya memenuhi standar WHO.

Berikut ini jenis paramedis menurut kualifikasi dan jenis pelayanan kesehatan yang diberikan:

1. Ponsel Tipe 1 EMT.

Melakukan pelayanan primer, rawat jalan dan pelayanan gawat darurat serta rujukan secara mobile.

2. Sesi EMT tipe 1 (tetap).

Menawarkan perawatan rawat jalan dan pertolongan pertama secara permanen di satu tempat dan rujukan.

3. EMT Tipe 2.

Melaksanakan layanan EMT Tipe 1 untuk mendukung perawatan rawat inap, layanan bedah umum, perawatan darurat, perawatan korban/trauma, layanan bedah obstetri, dan layanan khusus adaptasi bencana lainnya, serta layanan rujukan tambahan.

4.EMT tipe 3.

Melakukan layanan EMT Tipe 2 serta layanan perawatan kritis dan rujukan lanjutan.

5. Tim Perawatan Spesialis EMT.

Tim perawatan khusus lainnya terdiri dari spesialis terpilih yang dapat ditugaskan ke fasilitas kesehatan setempat atau diintegrasikan ke dalam ruang gawat darurat Tipe 2 atau Tipe 3 atau lokasi lain sesuai kebutuhan.

Pelayanan khusus ini dapat meliputi Epidemi/Penyakit Menular, Bedah, Ortopedi, Anestesi, Kedaruratan Medis, Rehabilitasi Medis, Kesehatan Mental, Penyakit Dalam, Obstetri dan Ginekologi, Pediatri, Neonatologi (Bayi Baru Lahir), Radiologi, Perawatan Luka dan Penanganan Luka Bakar, Identifikasi Korban Bencana (DVI), cuci darah, evakuasi medis atau gabungan beberapa dokter spesialis (interdisipliner).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *