Februari 27, 2024

Liputan6.com, Jakarta – PT PLN (Persero) belum berminat mengembangkan pembangkit listrik baru (EBT). PLN disebutkan telah menyelesaikan 28 mesin EBT baru pada tahun 2023. Selain itu, PLN juga melaksanakan program modernisasi dengan membangun jaringan transmisi dan distribusi serta pengembangan hidrogen hijau.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan PLN berkomitmen mendukung Pemerintah dalam melaksanakan transisi energi sebagai solusi strategis untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

“Kita mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” kata Darmawan dalam keterangan tertulisnya, Jumat, “Tentu saja banyak tantangan yang kita hadapi untuk mewujudkan transisi energi. Namun di saat yang sama, banyak peluang kerja sama yang bisa kita lakukan.” 5/1). /2024).

Pada tanggal 9 November 2023, diresmikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata dengan kapasitas puncak 192 Megawatt (MWp) sebagai salah satu proyek transfer energi.

PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara merupakan perusahaan patungan antara PLN dan perusahaan energi Masdar Uni Emirat Arab (UEA).

Tak berhenti sampai disitu, kerja sama kedua belah pihak terus berlanjut dengan penelitian untuk meningkatkan kapasitas PLTS Cirata dan mengembangkan proyek serupa di wilayah lain yang layak.

“Ini merupakan kerja sama global untuk mempercepat transisi energi. Perubahan iklim merupakan permasalahan global sehingga memerlukan solusi global dalam bentuk kerja sama,” kata Darmawan.

Selain PLTS terapung Cirata, pada tahun 2023 PLN akan membuka lagi 27 pembangkit EBT dengan total kapasitas 344 Megawatt (MW) yang akan memberikan kontribusi positif bagi industri transmisi tenaga listrik.

27 pembangkit EBT tersebut antara lain PLTA seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Besai Kemu (8,84 MW), PLTM Sukarame (7,4 MW), PLTM Perluasan Krueng Isep (10 MW), PLTM Sisire Simandame (4,6 MW), PLTM Lintau 1 ( 4,64 MW), PLTM Lintau 2 (4,64 MW), PLTM Anggoci (9 MW), PLTM Tongar (6,48 MW), PLTM Aek Sigeaon (3×2 MW), PLTM Aek Sibundong (4×2 MW), PLTM Bayu (3,6). MW), PLTM Cibuni (3,2 MW), PLTM Kanzy 1 (3 MW), PLTM Cileunca (1,09 MW) PLTM Sumberarum 1 (3,4 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Pageruyung (4,4 MW) dan PLTA Gajah Batu (PLTA) (7,5 MW).

Ada pula pembangkit listrik seperti PLTS Sepangkur Besar (PLTS) (0,075 MW), PLTS UP3 Gresik Gili Noko (0,05 MW), PLTS Saular (0,025 MW), PLTS Saibus (0,1 MW), PLTS Besar Sadulang (0,1 MW). ) ) dan PLTS Kemirian (0,05 MW).

PLN juga meresmikan dua Pembangkit Listrik Tenaga Panas (PLTP) baru yaitu PLTP Sorik Marapi (39,6 MW) dan PLTP Sokoria 2 (5 MW), serta pembangkit listrik ramah lingkungan lainnya seperti Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Ujung Batu (3,9 MW). dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Surakarta (8 MW).

“Potensi sumber daya alam untuk menghasilkan listrik terus kita gali, ini adalah kemampuan kita dalam transisi dari energi fosil ke sumber energi industri dalam negeri,” kata Darmawan. Hal ini untuk meningkatkan ketahanan listrik.”

Upaya PLN untuk menghilangkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil tidak hanya mencakup pembangunan pembangkit listrik.

PLN juga memperkuat infrastruktur transmisi dan jaringan distribusi di kepulauan Indonesia yang masih bergantung pada minyak.

Sebelumnya, pada September 2023, PLN telah berhasil mengoperasikan jaringan listrik dan kabel listrik bertegangan 20 kiloVolt (kV) di Kabupaten Pelangiran dan Kabupaten Teluk Belengkong, Provinsi Riau.

PLN juga akan mengoperasikan kabel tegangan menengah tegangan rendah 20 kV untuk rute Batam – Pulau Buluh pada Desember 2023.

Akibat beroperasinya jaringan ini, pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang sebelumnya digunakan sebagai sumber listrik utama akan ditiadakan dan warga bisa menikmati listrik selama 24 jam.

“Selain untuk mempercepat transmisi listrik, pembangunan kabel bawah tanah ini merupakan upaya PLN untuk menghadirkan pemerataan akses listrik bagi seluruh masyarakat. PLN terus mempercepat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di seluruh desa, termasuk wilayah 3T di Indonesia, agar mereka bisa menikmati listrik selama 24 jam,” kata Darmawan.

Di sisi lain, dalam upaya mendukung pengembangan jenis energi hijau lainnya, PLN menjadi pionir dalam pengembangan rantai pasokan hidrogen hijau sebagai bahan bakar alternatif kendaraan di Indonesia.

PLN membuka 21 unit Green Hydrogen Plant (GHP) pada 20 November 2023 yang mampu memproduksi hidrogen hingga 199 ton per tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *